Tampilkan postingan dengan label puisi ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi ku. Tampilkan semua postingan

puisi lama

Diposting oleh Alfianto Nandya Prakoso on Minggu, 06 November 2011

Gurindam

Contoh 1 :

Cahari olehmu akan sahabat
yang dapat dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru
yang mampu memberi ilmu

Cahari olehmu akan kawan
yang berbudi serta setiawan

Cahari olehmu akan abdi
yang terampil serta berbudi
Contoh 2 :
Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu akan tersesat
Barang siapa tinggalkan sembahyang
Bagai rumah tiada bertiang
Jika suami tiada berhati lurus
Istri pun kelak menjadi kurus











Pantun
Contoh 1:
Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukkan ke dalam hati
Contoh 2 :
Tanam melati di rama-rama
Ubur-ubur sampingan dua
Biarlah mati kita bersama
Satu kubur kita berdua
(Roro Mendut, 1968)



Syair
Contoh 1 :
Pada zaman dahulu kala
Tersebutlah sebuah cerita
Sebuah negeri yang aman
sentosa Dipimpin sang raja nan bijaksana
Negeri bernama Pasir Luhur
Tanahnya luas lagi subur
Rakyat teratur hidupnya makmur
Rukun raharja tiada terukur

Raja bernama Darmalaksana
Tampan rupawan elok parasnya
Adil dan jujur penuh wibawa
Gagah perkasa tiada tandingnya
Contoh 2 :
Bulan purnama cahaya terang
Bintang seperti intan
Pungguk merawan seorang-orang
Berahikan bulan di tanah seberang

Pungguk bercinta pagi dan petang
Melihat bulan di pagar bintang
Terselap merindu dendamnya datang
Dari saujana pungguk menentang


Talibun
Contoh 1 :
Panakik pisau siraut
Ambil galah batang lintabung
Silodang ambil untuk niru
Yang setitik jadikan laut
Yang sekapal jadikan gunung
Alam terkembang jadikan guru
(Panghulu, 1978:2)
Contoh 2 :
 Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu


Seloka
Contoh1 :
Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan
Kayu jati bertimbal jalan,
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan,
Ke mana untung diserahkan


Contoh 2 :
Seganda gugur di halaman
Daun melayang masuk kulah
Dengan adinda minta berkenalan
Rindunya bukan ulah-ulah
Daun melayang masuk kulah
Batang berangan di tepi paya
Rindunyabukan ulah-ulah
Jangan tuan tidak percaya
Batang berangan di tepi paya
Mari di jolok dengan galah
Jika tuan tidak percaya
Mari bersumpah kallamulah
KARMINA
Contoh 1 :
Dahulu parang, sekarang besi
Dahulu sayang sekarang benci
Dahulu sedan sekarang mercy
Dahulu teman sekarang i steri.
Ada tempayan gede tutupnya.
Anak perawan gede kentutnya.
Ikan sembilang di balik batu.
Sudah dibilang jangan mengganggu

Sirsak sirsak nangka belanda.
Pikiran rusak digoda janda.

Candi Mendut rusak jalannya.
Orang gendut banyak makannya.

Situ Bagendit jangan dicaci.
Kakek genit digoda banci.


Read More

Kesempuraan mu

Diposting oleh Alfianto Nandya Prakoso on Rabu, 12 Oktober 2011

Kesempuraan mu
Karya : Alfianto (x3)
kau begitu sempurna di mataku
hatiku mulai tenang bila kau ada di sampingku
hatiku mulai rapuh bila kau tak ada di sampingku
apa yang harus aku lakukan tanpa dirimu

canda dan tawa mu begitu terngiang dalam lubuk hatiku
teringat saat-saat kau ada di samping ku
kau menemani ku dengan penuh ke hangatan
menghilang rasa sedih dan sepi yang kurasakan

menghilangkan kegelisahann yang selalu menyelimuti hatiku
tapi kini kau telah pergi,entah apa yang bisa aku lakukan tanpamu
kau begitu indah,dan mungkin akan tetap indah selamanya.
aku akan setia menunggu mu di sini

hingga waktu yang akan mempertemuankan aku dan kamu
aku berdoa tak hentinya ku curah kan untukmu
agar kau bahagia di surga.....
walaupun air mata tak terhentikan ku teteskan untukmu

tapi ku yakin air mata ini air mata ketegaran
jangan pergi kekasih ku teriakan yang begitu hebat dalam hatiku.
meski kau tak ada tapi kenangan mu akan tetap ada
di lubuk hatiku selamanya
Read More

GERSANG

Diposting oleh Alfianto Nandya Prakoso

GERSANG
Karya : Alfianto(x3)

Tubuhku kian terbakar panasnya mentari
Mendaki seluruh perjalanan
Menatap pada kehidupan yang buran dan
menyakitkan
Meski kali ini penuh borok dan luka
Terdampar aku di setiap bebatuan
Tanah kering kerontang
Mengharapkan datangnya liur hujan
Matahari mengirim api
Angin kencang menampar nyali
Mengiris dan mencabik-cabik
seorang diri
lihatlah bumi kita menjadi gersang
Tubuhnya yang terlanjur terbaring kaku
seolah di garang pada bara yang membakar


Read More

Pohon jati

Diposting oleh Alfianto Nandya Prakoso

Pohon jati
Karya : Alfianto(x3)
Pohon jati kau berwibawa
Tubuhmu besar, daunmu lebat
Kau sangat bermanfaat bagiku
Tetapi nasibmu sungguh malang
Kau ditebang secara liar
oleh orang yang tak peduli
Pohon jati jasamu sungguh besar
Kau mengurangi pemanasan global
Pohon jati jasamu tak kulupakan


Read More

Pemandangan Gunung Karang

Diposting oleh Alfianto Nandya Prakoso

Pemandangan Gunung Karang
Karya : alfianto(x3)
Gunung-gunung dan bukit-bukit hitam
Tinggi dan tajam
Menjulang menusuknusuk awan

Air sungai yang berkolak-kolak
Bermain-main di celah kakinya

Bilakah sebenarnya
Dewa-dewi telah turun dari langit
Sempat-sempatnya membuat
Pahatan alam yang begini cantik


Read More

Hampa

Diposting oleh Alfianto Nandya Prakoso

Hampa
Karya :alfianto(x3)

Gersang tak bertepi ''
Panasnya menyengat laksana bara ''
Tak setetespun embun pagi pnyejuk hati ''
Tuk sekedar pelepas dahaga jiwa ''

Hati ini tandus dan kering kerontang ''
Sunyi senyap tiada berpenghuni ''
Menapaki tebing tinggi yg tramat panjang ''
Mencari arti kesejatian diri ''

Pencarian ini seakan prcuma ''
Karena aku telah putus asa ''
Yg ku rasakan hanyalah hampa ''
Tanpa jiwa yg mnopang raga ''

Aku hanyalh seonggok daging yg bernyawa ''
Berkelana,tapi tak tahu harus kemana ''
Read More